Friday, January 06, 2006
Mengatasi problem membanjirnya Software bajakan
Sekarang gw bakal ngomong mengenai ekonomi. Lho kok ekonomi? Oke..oke gw ngerti deh kalau elo-elo semua lebih pengen bikin karya yang baik dibandingkan mikirin soal duit. Yep...typical 3d artist emang gitu. Tapi jangan lupa kalau kita juga gak selamanya muda, suatu saat ini akan berkeluarga dan punya anak. Pada saat itulah semuanya berubah.

Gw punya satu teori. Semua komponen harga di dunia adalah sama, yang beda hanya nilai valutanya. Bingung? Oke gw kasih contoh. Misalnya kita makan di Indonesia. Sekali makan di warteg berapa ? Kira-kira Rp 4.000-7.000 khan? Nah gimana nerapin nilai tersebut di negara lain. Gampang..buang aja angka “ribuan” dibelakan rupiah dan kita akan mendapatkan nilai yang relatif sama. Jadi kalau kita makan di malaysia kita akan habiskan 4-7 Ringgit, di singapore juga 4-7 dollar SG. Diperluas lagi kita bisa pake nilai yang sama di Aussie, New Zealand, hingga Amerika dan canada. Pengecualian adalah Jepang karena nilai tukarnya agak aneh hehehe...Teori diatas muncul dari pengalaman kerja gw selama ini. Gw sempet kerja di malaysia dan kadang2x di Singapore. Dan juga diskusi dengan temen2x di negara lain seperti New Zealand dan Canada.

Lalu bagaimana menghubungkan dengan nilai ekonomi kita sehari-hari. Kalau gw hitung sih gw sebulan tinggal di jakarta akan mengeluarkan sekitar 2,5 juta rupiah utk semua aktifitas gw. Dari makan, transport, nonton di bioskop (ini harus), beli buku2x graphics yang mahal (2 biji tiap bulan), hingga nongkrong di starbucks (gw gak terlalu suka pergi sebenarnya – maklum kutu buku hehehe).

Artinya nilai uang secara “psikologis” dimana2x adalah sama. Nah dari sini gw punya kesimpulan kalau nilai sebuah barang di luar negeri di konversi ke rupiah adalah salah besar.

Berdasarkan pengamatan di atas. Kalau cuma bicara kebutuhan dasar (non teknologi) sebenarnya kehidupan kita di Indonesia oke-oke aja. Masalah yang ada timbul justru karena nilai tukar rupiah yang jeblok, sehingga barang2x import jadi mahal. Misalnya kita beli buku dari Amerika. Biasanya buku2x graphics akan berharga 30-60 dollar. Dengan teori gw diatas secara psikologis buat orang amerika buku ini sama harganya dengan 30-60 ribu rupiah bagi orang Indonesia. Namun sekali buku tersebut di import ke Indonesia berarti kita membayar pada harga 9-10 kali lipat dari yang seharusnya.

Berdasarkan survey2x gw lebih lanjut ternyata project graphics atau animasi di luar negeri pun punya nilai yang sama dengan di Indonesia. Sebuah project animasi berharga 50 juta kalau dibawa ke malaysia pasti akan mereka charge 50.000RM dan di singapore 50.000 dollar SG.

Gaji pun di mana2x sama. Misalnya utk animator mid level anggap aja gaji sekitar 3 juta rupiah. Pada level yang sama di malaysia,singapore hingga new zealand dan negara lain, kisarannya pun adalah 3000 RM atau dollar atau apapun kursnya. Jadi kalau mau tanya berapa gaji orang di sebuah negara gampang kok, ganti aja nilainya jadi kurs mereka, beres deh...gak percaya? Coba aja tanya...gw udah survey kok...

Sialnya bagi kita di Indonesia..dengan bayaran yang sama kita harus beli software original seharga 10 kali lipat “nilai psikologis” yang seharusnya. Itulah sebabnya pembajakan meraja lela. Kalaupun ada animation house yang beli software original gw berani jamin bahwa 1 software akan dipake rame2x utk 10 komputer lain yang menggunakan versi Mangga dua.

Bagaimana mengatasi masalah diatas buat orang Indonesia yang mau beli barang import. Ambil lagi illustrasi gw ttg harga buku. Biasanya penerbit akan mengeluarkan buku versi “local” alias terjemahan. Jadi kalau kita mau baca buku harry potter terjemahan kita cuma bayar 30 ribu saja dan bukan 300 ribu (30 dollar US). Sistem ini banyak untungnya buat kita. Kita jadi bisa beli buku murah, tapi buat JK Rowling juga tetap ada untungnya karena bule juga gak akan ngerti beli buku Harry potter bahasa melayu. Kedua belah pihak sama2x untung.

Contoh lain adalah film. Kalau kita beli VCD “original” di Indonesia maka harga yang kita bayar adalah sekitar 25-50 ribu. Sama dengan di malaysia 25-50 RM, Singapore 25-50 $SG bahkan amerika yang harga filmnya 25-50 US $.

Bayangkan penerapannya pada komputer graphics. Kalau ada versi software local artinya kita bisa beli windows dengan harga 200 ribu rupiah aja. Beli software2x 3D dengan harga 500 ribu hingga 1,7 juta rupiah per unit. Rasanya gw sih gak keberatan beli software original seharga ini. Karena nilai projectnya dalam rupiah juga akan tertutup.

Agar adil memang kita tidak boleh menjual project ini ke negara lain karena otomatis negara dengan nilai kurs lebih tinggi otomatis dirugikan. Apalagi ditambah gaji orang indonesia (yang kalau di kurs ke mata uang mereka) otomatis juga lebih rendah.

Himbauan gw cuma satu....cobalah membuat versi local dari software berkaitan....gw berani jamin bahwa pembajakan akan menurun. Mungkin tidak bisa hilang sepenuhnya tapi paling tidak nilai ekonomis yang ada akan memungkinkan orang membeli software “original”. Sama seperti film VCD di Indonesia.

Yang gw bingung cuma satu...himbauan ini musti ditujukan sama siapa ya? Sama pembuat software? Pemerintah? Atau institusi lain? Pusing dah gw... hehehe
 
posted by Adez at 8:04 PM | Permalink |


0 Comments: